JEJE RADIO| Kain tenun yang biasa dipakai untuk acara adat, kini menjelma dalam busana yang dapat dikenakan pada kegiatan sehari-hari. Corak tenun tampil elegan berpadu dengan kain yang ringan agar mudah digunakan.

Busana itu telihat dalam pagelaran Tenoen Etnik di Indonesia Fashion Week 2017. Sebanyak enam desainer menunjukkan kelihaian mereka mengolah kain tradisional dalam wujud busana muslim. Masing-masing membawa 16 karya.
Jenahara, Ida Royani, Torang Sitorus, dan Jeny Tjahyawati menampilkan kreasi kain tenun ulos dari tanah Batak. Sementara Anne Rufaidah menggunakan kain tenun dari Nusa Tenggara Timur yang dipadankan dengan tenun Tana Toraja dan Nieta Hidayani dengan tenun dari Sulawesi Tengah.

Dalam koleksi etnik ini, Jenahara memilih mengolah ulos. Ulos asli yang berat ini dipadukan dengan kain yang lebih ringan untuk mendapatkan kesan yang lebih flowy. Dia terinspirasi dari kekuatan seorang wanita yang memiliki keberanian, prinsip yang kuat dan jiwa kepemimpinan. Inspirasi itu dituangkan pada warna dominan hitam di kain ulos yang menunjukkan kekuatan dan keberanian. Motif dari kain ulos juga menggambarkan ketegasan.

Berbeda dengan sang anak, Ida Royani, ibu Jena itu membagi tema busana dari dua kain ulos yang berbeda, yaitu Ulos Pinuncaan dan Sadum. Ida memadukan ulos dengan pilihan warna hitam, putih, ungu, dan pink tua.

Dalam koleksinya, baik berupa dress atau atasan dan bawahan, Ida menempatkan kain ulos hanya pada satu bagian saja. Jika atasan sudah memakai ulos, bawahan akan menggunakan kain polos, pun sebaliknya.

Jika Jena dan Ida menampilkan ulos dalam bentuk pakaian minimalis, lain lagi dengan Torang Sitorus. Pengusaha tekstil asal Medan ini merancang kain ulos yang ditenun sejak tiga bulan lalu itu dengan lebih kompleks. Torang bahkan mengubah tudung yang biasa digunakan wanita Batak menjadi hijab.

LEAVE A REPLY